DAFTAR
ISI:
Ø KATA
PENGANTAR
Ø BAB1
PENDAHULUAN:latar belakang,tujuan
dan manfaat
Ø BAB2
PEMBAHASAN:pengertian kenakalan
remaja,masa remaja,faktor yang mem-
Pengaruhi
kenakalan remaja dan cara mengatasinya,dampak
Negatif
dari kenakalan remaja.
Ø BAB3
KESIMPULAN
SARAN
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat , karunia dan
hidayah-Nya kepada kita semua sehingga akhirnya tugas ini dapat
terselesaikan.Shalawat serta salam senantiasa tercurah pada Nabi Muhammad
SAW beserta para pengikutnya yang setia menemani hingga akhir zaman.tugas yang
di beri judul “KENAKALAN REMAJA”ini ialah suatu tugas yang terbentuk dari hasil
tugas per-individu dimana tugas ini merupakan persyaratan aspek penilaian mata pelajaran
Bimbingan Konseling(BK). Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat dan
karunia-Nya serta keridhoan-Nya kepada kita semua , amin.saya menyadari bahwa
tugas ini masih banyak memiliki kekurangan.oleh karena itu segala
saran&kritik yang membangun,dan harapan saya semoga tugas saya dapat
bermanfaat bagi PEMBACA.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Masa kanak-kanak,
remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan
suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap
pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan
memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai
masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering
menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi
pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini
adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para
orangtua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu
membesar-besarkan perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi
pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang
mengawasi segala tindak tanduk si remaja.
Remaja adalah masa
peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa
remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun.
Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun
masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari
pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui
metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan.
B. Tujuan dan Manfaat
- Mengidentifkasi dan memberikan gambaran bentuk-bentuk kenakalan
yang dilakukan remaja.
- Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja
dan cara mengatasinya.
- Untuk mengetahui dampak negatif kenakalan remaja
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh
remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya,
baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan
masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan
emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud
dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak
maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa
lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun
trauma terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya
merasa rendah diri, dan sebagainya. Kenakalan remaja (juvenile
delinquency) adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum
dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak
dan dewasa.
Sedangkan
Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :
a.Semua
perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak
merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti
mencuri, menganiaya dan sebagainya.
b.Semua
perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran
dalam masyarakat.
c.Semua
perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Faktor pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik.
Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan.
Faktor pemicunya, menurut sosiolog Kartono, antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik.
Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan.
Perilaku yang ditampilkan dapat
bermacam-macam, mulai dari kenakalan ringan seperti membolos sekolah, melanggar
peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam yang orangtua berikan, hingga
kenakalan berat seperti vandalisme, perkelahian antar geng, penggunaan
obat-obat terlarang, dan sebagainya.
CONTOH GAMBAR KENAKALAN
REMAJA:
Dalam batasan hukum, menurut Philip Rice dan Gale
Dolgin, penulis buku The Adolescence, terdapat dua kategori pelanggaran yang dilakukan
remaja, yaitu:
a. Pelanggaran indeks, yaitu munculnya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku yang termasuk di antaranya adalah pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.
b. Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari rumah, membolos sekolah, minum minuman beralkohol di bawah umur, perilaku seksual, dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah atau orang tua.
a. Pelanggaran indeks, yaitu munculnya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku yang termasuk di antaranya adalah pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.
b. Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari rumah, membolos sekolah, minum minuman beralkohol di bawah umur, perilaku seksual, dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah atau orang tua.
B. Masa Remaja
1. Masa pra-pubertas (12 - 13 tahun)
Masa ini disebut juga masa
pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan,
masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini,
terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas
dan mulai berkembangnya organ- organ seksual serta organ-organ reproduksi
remaja. Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat juga
terjadi pada fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka
mengkritik (karena merasa tahu segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk
pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang
dewasa yang dianggapnya baik, serta menjadikannya sebagai “hero” atau
pujaannya.
2. Masa pubertas (14 - 16 tahun)
Masa ini disebut juga masa
remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat
cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan
bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi
sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu
pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja
wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja
pris ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa
bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta
memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas.
3. Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)
Pada masa ini, remaja yang
mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik
sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka
dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat.
Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria,
sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja
pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai
sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.
4. Periode
remaja Adolesen (19 - 21 tahun)
Pada periode ini umumnya
remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun
psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai
memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai
menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya
terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya,
bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol
akan terlihat jelas pada fase ini.
C. Faktor yang Mempengaruhi
Kenakalan Remaja dan Cara Mengatasinya
Ø Faktor internal:
a.Krisis identitas: Perubahan biologis dan
sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama,
terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua,
tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal
mencapai masa integrasi kedua.
b.Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa
mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak
dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang
telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa
mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Ø Faktor eksternal:
a. Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi
antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu
perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti
terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan
terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
b. Teman sebaya yang kurang baik
c. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang
kurang baik.
Sedangkan menurut Kumpfer dan
Alvarado, Faktor faktor Penyebab kenakalan remaja antara lain :
a. Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak
mengenai nilai-nilai moral dan sosial.
b. Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap
perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.
c.Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik
aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah, dan lainnya).
d. Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua
pada anak.
e. Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.
f. Tingginya konflik dan perilaku agresif yang
terjadi dalam lingkungan keluarga.
g. Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan
keluarga.
h. Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada
pengawasan dari figur otoritas lain.
i. Perbedaan budaya tempat tinggal anak,
misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru.
j. Adanya saudara kandung atau tiri yang
menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan remaja.
CONTOH DARI FAKTOR-FAKTOR TERSEBUT:
1. Pengaruh Teman
Di kalangan remaja, memiliki
banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak
kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat
memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di
kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak
orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan
hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua
juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan
tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau
tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya.
Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang
tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai
modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi
frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa
kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.
Cara Mengatasi :
• mengarahkan
untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai
• orangtua
hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab
rumah tangga kepada si remaja.
• Dilatih
untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk
mandiri.
2. TEKANAN
ORANG TUA DALAM MEMILIH PENDIDIKAN
Memberikan pendidikan yang
sesuai adalah merupakan salah satu tugas orang tua kepada anak, agar anak dapat
memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Terkadang
hal ini yang menjadikan orang tua berkeras hati untuk memasukan anaknya
kesekolah yang manurut orang tua adalah yang terbaik tapi belum tentu untuk
anak itu sendiri. Tak jarang dengan adanya selisih paham tentang pendidikan
anak menjadi lebih egois karena dia mempunyai tempat pendidikan menurutnya
terbaik. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan.
Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak
orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan
kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama
sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang
tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna
obat-obat terlarang.
Cara Mengatasinya :
• Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan
akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya
membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah
agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan
semata-mata karena kesenangan orang tua.
• Berikan
Kepercayaan anak untuk memilih pendidikannya dan orang tua mengawasi anak dan
jangan terlalu membatasi selama itu masih dalam batas kewajaran.
D.
Dampat Negatif Kenakalan Remaja
Dampak negatif kenakalan remaja
adalah bodoh mereka menjadi, bodoh karena mereka tidak mau belajar, tidak
pernah belajar dan tidak mau memikirkan pelajaran, tidak dapat mengatur waktu
dengan baik. Remaja tidak pernah mempergunakan waktunya dengan baik. Karena
waktunya habis terbuang untuk bermain-main dan bersenang-senang tidak
pernah memikirkan pelajaran sekolah. Dan juga dapat merusak positif dan tidak
pernah melakukan ibadah akibatnya remaja menjadi nakal dan melakukan
perbuatan yang tidak baik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada
dasarnya remaja itu baik, akan tetapi mereka menghadapi banyak masalah, yang
kadang mereka tidak sanggup untuk mengatasinya sehingga terjadi penyimpangan
perilaku yang disebut kenakalan. Dalam penanggulangan kenakalan remaja, kita
perlu menggunakan pendekatan psikologis. Mulai dari pamahaman tentang kenakalan
remaja dan mencari latar belakang terjadinya, agar kita tidak melihat tindakan
tanpa mengetahui berbagai faktor penyebabnya baik yang timbul akibat perubahan
yang terjadi pada diri remaja maupun yang datang dari luar.
Oleh
karena itu dalam penanggulangan kenakalan remaja bukan dengan hukuman atau
ancaman tetapi dengan membantunya untuk mencari penyelesaian masalah dengan
cara yang baik dan tidak bertentangan dengan hukum dan ajaran agama.
Keluarga
mempunyai peranan penting dalam menciptakan ketentraman batin remaja. Dalam
menghadapi kenakalan remaja, orangtua yang bijaksana dapat memahami keadaan
remaja dan membantunya mengatasi persoalan yang dihadapinya.
Guru
di sekolah juga mempunyai peranan penting dalam membantu remaja dalam mengatasi
kesulitannya. Keterbukaan hati guru menerima keadaannya menjadikan remaja sadar
akan sikap dan tingkah lakunya yang kurang baik.
Pendidikan
agama yang diperoleh remaja dapat membantunya mengatasi berbagai masalah dan
gejolak kejiwaan pada dirinya, maka sebaiknya semua mata pelajaran dapat
menghubungkan bidang yang diajarkannya dengan ajaran agama.
B. Saran
1) Perlu adanya
tindakan-tindakan dari pemerintah untuk mengawasi tindakan remaja di Indonesia
agar tidak terjerumus pada kenakalan remaja.
2) Perlunya penanaman nilai
moral , pendidikan dan nilai religious pada diri seorang remaja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar